Buku yang namanya Messi
Final 2026 kemarin bikin aku diem lama.
Bukan karena Argentina kalah — Spanyol emang lebih baik malem itu, nggak bisa diperdebatkan. Tapi karena Messi, 39 tahun, habis dikasih medali runner-up, bukannya langsung masuk tunnel — dia jalan ke arah suporter Argentina yang masih ada di tribun. Berdiri di sana. Nangis. Dan mereka chant namanya.
Aku nonton itu dan mulai ngitung udah berapa lama aku kenal orang ini.
Ternyata hampir seluruh hidup aku.
SD kelas 4, pertama kali diem nonton bola
Aku nggak inget matchnya. Aku inget perasaannya — nonton orang yang geraknya kayak lapangan punya aturan fisika yang beda buat dia. Ruang yang dia butuhin selalu muncul. Bola selalu mendarat di tempat yang bener. Keputusannya — kapan operan, kapan tahan, kapan tiba-tiba belok — kelihatan kayak nggak dipikirin sama sekali.
Aku SD kelas 4. Waktu itu aku pikir ini cuma pemain bagus biasa.
Tapi ada yang bikin aku nggak bisa move on dari highlight itu. Bukan golnya — golnya banyak yang lebih spektakuler. Yang bikin aku kesel sendiri adalah aku nggak bisa jelasin kenapa dia kelihatan beda. Kelihatan kayak dia tau sesuatu yang orang lain nggak tau, tapi aku nggak bisa bilang apa.
Itu pertama kalinya aku nonton sepakbola dan penasaran sama cara kerjanya, bukan cuma hasilnya.
Final 2014
Argentina vs Jerman. Extra time. Gol Mario Götze menit 113. 1-0.
Aku masih inget nonton itu dengan perasaan yang agak susah dideskripsiin. Kecewa, jelas. Tapi ada sesuatu yang bikin aku nggak bisa benci hasilnya. Messi main di turnamen itu dengan cara yang susah dijelasin — dia dapet Silver Ball, Golden Boot, pemain terbaik turnamen, dan Argentina tetap kalah. Dua hal itu ada bersamaan.
Yang aku inget paling jelas bukan golnya, bukan statistiknya. Yang aku inget adalah ekspresinya habis peluit akhir. Nggak ada drama. Nggak nyalahin siapapun. Nggak ada quote yang ngejebak diri sendiri buat besok.
Dia cuma ada di sana. Kalah. Dan tetap keliatan kayak orang yang tau persis apa yang dia lakuin.
Waktu itu aku baru mulai serius belajar desain sama coding. Dan aku baru ngerti — jauh setelah 2014 — bahwa ada cara kalah yang nggak bikin kamu lebih kecil dari sebelumnya. Aku belum tau cara itu. Tapi aku liat contohnya malam itu.
2016
Copa América final lagi. Kalah lagi, dari Chile. Terus Messi ngumumin pensiun dari timnas.
Jujur, waktu itu reaksi aku pertama bukan kaget — lebih ke "ya emang wajar sih." Udah terlalu sering lihat dia kasih segalanya buat timnas dan terus dibilang nggak cukup. Aku ngerti kalau dia capek.
Dua bulan kemudian dia balik.
Orang-orang ngetawain itu. Nggak konsisten lah, drama lah, cari perhatian lah. Dan mungkin dari luar emang kelihatan kayak gitu.
Tapi aku mikir — apa yang lebih susah, sebenernya? Pensiun dengan rapi dan maintain image, atau ngaku ke diri sendiri bahwa kamu masih belum selesai, walau itu artinya harus terima malu di depan umum?
Dia milih yang kedua. Balik, tanpa banyak penjelasan, dan lanjut main.
Aku pernah ada di titik yang mirip — hampir berhenti dari sesuatu yang sebenernya masih aku mau, lebih karena takut kelihatan "nggak konsisten" daripada karena beneran udah selesai. Momen 2016 itu jadi semacam pengingat yang aku simpen: bedain antara beneran udah cukup sama sekadar takut kelihatan mau lagi.
Qatar 2022
Aku nonton finalnya bareng beberapa orang, tapi sepanjang 120 menit lebih hampir nggak ada yang ngomong.
Argentina vs Prancis. Messi cetak dua gol, 2-0. Terus dalam 97 detik Mbappé samain skor jadi 2-2. Extra time. Messi cetak lagi. Mbappé hat-trick. 3-3. Penalti. Argentina menang 4-2.
Waktu peluit akhir bunyi, aku nggak langsung teriak atau nggak tau harus gimana. Ada jeda aneh, beberapa detik, di mana aku cuma duduk dan ngerasa satu hal:
Oh. Dia beneran lakuin itu.
Selama bertahun-tahun aku denger "dia nggak bisa buat timnas" dari mana-mana — teman, keluarga, kolom olahraga, kolom media yang sok tau. Aku selalu nggak setuju, tapi juga nggak punya jawabannya. Malam itu jawabannya ada. Di umur 35. Di final yang secara logika nggak seharusnya berakhir kayak gitu.
Yang lebih bikin aku nggak habis pikir: dia nggak berhenti di situ.
2026
Ini turnamen yang penuh sama tuduhan. Mesir masukin komplain resmi ke FIFA soal wasit. Muncul data bahwa Argentina jadi tim dengan tingkat overturn VAR tertinggi di turnamen. Ronaldo like postingan yang nyebut mereka dianak-emaskan. Chief refereeing FIFA sampai bikin konpers khusus buat defend timnya.
Messi cuma bilang sekali: "Kami udah yang terbaik selama empat tahun terakhir. Nggak ada yang dikasih gratis."
Satu kalimat. Terus fokus main lagi.
Argentina sampai ke final — ketiga kalinya dengan Messi. Spanyol lebih baik malem itu. Messi cuma 15 sentuhan. Ferran Torres menit 106. 1-0.
Abis itu dia jalan ke tribun suporter Argentina. Nangis. Dan mereka chant.
Aku baru sadar kemarin bahwa hampir setiap momen besar dalam karier Messi terjadi di waktu yang berbeda-beda dalam hidup aku — waktu aku masih anak-anak dan baru belajar suka bola, waktu aku remaja dan mulai punya ambisi, waktu aku dewasa dan mulai kenal rasanya hampir nyerah, waktu aku mulai beneran percaya sama apa yang aku bangun.
Dia selalu ada di background. Konsisten. Nggak pernah benar-benar pergi.
Itu yang bikin dia beda. Bukan delapan Ballon d'Or-nya. Bukan 919 golnya. Tapi fakta bahwa dia ada cukup lama sampai karier dia nyambung sama berbagai versi diri aku yang berbeda. Kayak buku yang tiap kamu baca ulang dapet hal yang beda, tergantung kamu lagi di titik mana.
Bocah dari Rosario. Dua puluh tahun lebih. Penonton masih chanting.
Buku yang nggak dijual di mana pun. Dan aku bersyukur sempat baca.
Kalau kamu mau ngobrol sama orang yang mikirin hal-hal kayak gini sambil kerja — aku di sini.